Menjadi Petani di Kota dengan Teknik Berkebun Hidroponik

Urban Farming

MENDENGAR kata ”petani”, pasti terlintas di benak bahwa yang dilakukan mereka salah satunya adalah menyediakan makanan (dari tanaman) untuk kita semua. Di masa modern, profesi petani sudah tak menarik lagi, apalagi bagi anak muda.

Petani biasa ditemui di desa yang masih memiliki banyak lahan untuk digarap. Sayangnya, budaya modern menyedot minat pemuda desa sehingga meninggalkan desanya. Jika kondisi ini dibiarkan, muncul prediksi profesi petani bakal punah dalam 50 tahun mendatang.

”Kalau profesi petani hilang, siapa yang akan menyediakan makanan bagi manusia? Jadi, lebih baik tidak bergantung pada orang lain untuk menyediakan makanan kita. Kita juga bisa menyediakan makanan sendiri meski tinggal di kota,” ujar Rici Solihin yang menjadi Duta Petani Muda saat ditemui di Karim Farm, Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Jumat 21 April 2017.

Pada kesempatan itu, Rici memberikan pelatihan menanam hidroponik kepada lebih dari 100 perwakilan karyawan Accors Grup Hotel. Kegiatan itu merupakan rangkaian kegiatan CSR (corporate social responsibility) serta program internal Planet 21 yang mengambil tema ”Vegetable Garden”.

Hidroponik adalah budi daya menanam tanpa menggunakan tanah dengan menekankan pada pemenuhan nutrisi pada tanaman. Meski tidak menggunakan tanah sebagai media, metode ini tetap memerlukan air serta unsur hara lain untuk mendukung pertumbuhan tanaman.

Sebagai media tanam, dapat digunakan pasir, sabut kelapa, pecahan batu bata, batu apung, potongan kayu, bahkan bisa juga menggunakan kawat kasa nilon. Namun, yang umum digunakan media arang sekam.

Menurut Rici, pola hidroponik sangat cocok diterapkan di perkotaan. Beberapa tanaman yang bisa dipanen melalui metode ini rata-rata sayuran, misalnya sayuran hijau seperti pakcoy dan sawi, sayuran buah seperti tomat atau cabai, atau sayuran umbi seperti kentang dan wortel.

”Lebih praktis lagi karena hidroponik juga bisa menggunakan botol-botol plastik air mineral kemasan sebagai pengganti pot. Itu juga sekaligus menggunakan ulang sampah plastik. Bukan hanya itu, tanaman hidroponik juga bisa memiliki fungsi estetik di ruangan yang sempit,” tuturnya.

Menurut pemilik Karim Farm, Irmanudin Nuridan, hidroponik dipilih karena terbukti efektif. Sejak memulai bisnis di 2010, Karim Farm langsung menggunakan metode ini dalam membudidayakan paprika.

Irman mengatakan, pola hidroponik dapat menghindarkan tanaman dari hama sehingga mampu memaksimalkan panen dan me­minimalkan tanaman yang mati.

”Metode ini cukup steril. Lahan garapan saja dibuat green house dan saat berinteraksi dengan tanaman juga memperhatikan faktor kebersihan seperti harus menggunakan alas kaki atau memakai sa­rung tangan,” katanya.

Selain paprika, Karim Farm juga membudidayakan tanaman la­in seperti kembang kol, timun kyuri, serta aneka herbs seperti mint, basil, dan coriander. Budi daya hidroponik tersebut dapat mengha­silan sayuran yang lebih berkualitas, juga bebas pupuk kimia sehingga lebih ramah lingkungan dan lebih bernutrisi bagi kesehatan tubuh.

Terdapat dua teknik bercocok tanam hidroponik, vertikal dan horizontal. Pola ini cocok bagi mereka yang ingin melakukan urban farming. Oleh karena itu, bisa dilakukan di rumah, kantor, sekolah, dan lahan sempit lain. Lebih praktis lagi, tanaman jenis ini tidak ter­lalu memerlukan sinar matahari tinggi sehingga bisa ditaruh di sekitar dapur atau halaman rumah, meski sebaiknya berada di tempat terbuka.

Vertikal dan horizontal

Bahan dan alat untuk membuat tanaman hidroponik cukup mudah didapat. Anda bisa memanfaatkan botol plastik yang sudah tak terpakai. Nilai estetika juga dapat diraih melalui tanaman ini, tinggal menggantungkannya di dinding dan jadilah hiasan serta dekorasi ruangan yang cantik.
Berikut langkah untuk membuat tanaman hiroponik vertikal.

– Siapkan botol plastik bekas, potong 2/3 bagiannya dengan bagian mulut botol lebih pendek. Tumpangkan bagian yang pendek ke bagian yang lebih panjang dengan ujung mulut botol berada di bagian dalam. Isi dengan air yang sudah diberi pupuk cair, sebisa mungkin yang organik.

– Masukkan sumbu atau tali kain hingga menyentuh dasar botol, atur pangkal sumbu berada di sekitar mulut botol. Ambil benih lalu balut bagian akar dengan kapas dan taruh di ujung mulut botol ber­tumpangan dengan sumbu.

– Masukkan media tanam, misalnya arang sekam agar menggemburkan tanaman serta membantu tanaman menjadi tegak. Siram dua kali sehari pagi dan sore dengan menggunakan semprotan tanaman.

Sementara itu, untuk membuat tanaman hidroponik horizontal langkahnya antara lain:
– Siapkan botol plastik lalu toreh bagian tengahnya secara memanjang hingga membentuk setengah lingkaran.

– Taruh media tanam, lalu beri ruang untuk menanamkan akar tanaman. Siram dengan air beserta pupuk cair dengan semprotan dua kali sehari.

Tips lainnya, gunakan tanaman yang tidak terlalu tinggi untuk hi­droponik vertikal.***

Sumber: Pikiran Rakyat, 30 April 2017

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *