Indonesia Butuh Petani Muda Produktif

Regenerasi Petani

Jakarta, GATRAnews – Kemandirian dan kedaulatan pangan menjadi hal yang penting dalam pembangunan masa depan pertanian. Hal ini tertuang dalam Undang-Undang Desa Nomor 6 Tahun 2014. Kebijakan ini memposisikan profesi petani sebagai instrumen yang penting untuk membangun negeri. Sayangnya, usia petani yang masih aktif sudah tidak lagi produktif. Kenyataan ini diperparah oleh minimnya minat pemuda untuk menggarap sektor pertanian, dan lebih memilih merantau ke kota.

Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan (KRKP) menilai mandeknya regenerasi petani dipengaruhi oleh akses terhadap lahan dan pendapatan. Tak hanya itu, stereotipe tentang petani sebagai pekerja kasar dan kelas rendah juga mempengaruhi minat pemuda untuk meninggalkan sektor ini.

Data Badan Pusat Statistik menunjukkan pekerja pertanian mengalami penuaan, yaitu sebanyak 61,8% petani di Indonesia berusia di atas 45 tahun. Hanya 12% saja petani yang berusia kurang dari 35 tahun.

Kajian tentang minimya minat bertani dituangkan oleh KRKP dalam sebuah buku berjudul “Mencari Petani Muda: Ikhtiar Membangun Masa Depan Pertanian”.

“Kajia ini menunjukkan bahwa 70% petani padi, dan 73% petani holtikultura yang menjalani profesinya menyatakan pekerjaan ini bukan yang mereka inginkan sejak awal. Jadi, bertani bukan pekerjaan yang didambakan di Indonesia,” ungkap Said Abdullah, Koordinator KRKP, Selasa (25/4), di kawasan Cikini, Jakarta Pusat.

Sejumlah riset yang dilakukan juga bermuara pada kenyataan yang serupa, yaitu 70% generasi muda yang berasal dari keluarga petani padi, dan 60% dari keluarga petani holtikultura tidak pernah bercita-cita melanjutkan pekerjaan orangtua mereka. “Citra pekerjaan petani perlu diperbaiki. Kebijakan yang selama ini berlaku hanya berpusat pada peningkatan produksi pertanian, seperti subsidi, pelatihan, dan bantuan peralatan. Namun, kebijakan untuk regenerasi petani belum sepenuhnya dinilai serius,” lanjut Said.

Kepala Departemen Proteksi Tanaman Institut Pertanian Bogor Suryo Wiyono menilai, kebijakan yang ada seharusnya membuat pertanian lebih menarik bagi generasi muda. “Seharusnya, selain meningkatkan pendapatan petani, pemerintah juga perlu memfasilitai pemasaran. Petani harus dijadikan sebagai profesi yang keren secara sosial, ada pengkuan tersendiri kepada petani muda,” ungkapnya.

Kenyataan ini mendasari KRKP bersama sejumlah mitra menggelar program pemilihan Duta Petani Muda. Program yang digelar pada tahun 2016 lalu itu menjadi kampanye yang efektif untuk menemukan potensi petani muda di Indonesia.

Rici Solihin, satu di antara Duta Petani Muda yang terpilih menilai, potensi pertanian di Indonesia masih sangat besar. Saat ini, Rici tengah mengembangkan tanaman paprika sebagai produk pertanian unggulannya.

“Saya melihat peluang bertani ini sebagai potensi untuk mencari penghasilan. Saya melihat ada potensi yang besar dari budidaya paprika di Bandung Barat. Kami bisa menghasilkan puluhan ribu buah paprika sekali panen,” jelas Rici.

Tak hanya itu, Rici juga mengungkapkan alasannya memilih produk pertanian holtikultura. “Bertani paprika nggak perlu lahan yang luas. Hanya memanfaatkan lahan sempit 600 meter persegi saja, bisa menanam 2.600 pohon. Ini potensial, apalagi setelah faham produk ini akan dipasarkan ke mana, jelas menguntungkan,” urainya.

Reporter: Rizaldi Abror
Editor: Edward Luhukay

Sumber: Gatra, 26 April 2017

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *