Duta Petani Muda Berbagi Resep Bisnis Sektor Pertanian

Dari kiri, tiga Duta Petani Muda: I Gede Artha pemilik Gede Jamur, Rizal Fahreza pemilik Digdaya Agro Nusantara, dan Rici Solihin pemilik Paprici, beserta Direktur Pelayanan Sosial Dasar Hanibal Hamidi dan Ketua Departemen Proteksi Tanaman IPB Suryo Wiyono saat memberikan paparan program Duta Petani Muda di Jakarta – Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA – Potret suram pertanian menyebabkan anak muda desa enggan bercita-cita menjadi petani.

Koordinator Nasional Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan Said Abdullah menyampaikan salah satu faktor pendorong minimnya minat di sektor pertanian karena ketidakpastian dalam hal pendapatan.

Dengan demikian, pemerintah perlu berupaya memberikan kepastian pendapatan petani. Salah satu upaya yang dapat dilakukan melalui kemudahan akses permodalan dan pasar.

“Fasilitasi dan kemudahan perizinan juga perlu didorong. Misalnya, kemudahan ekspor karena tiga duta muda ini selanjutnya juga akan berorientasi ekspor,” tuturnya, Selasa (25/4).

Rici Solihin pemilik Paprici, Rizal Fahreza pemilik Digdaya Agro Nusantara, dan I Gede Artha pemilik Gede Jamur, terpilih sebagai Duta Petani Muda. Mereka terpilih dari 514 aplikasi yang mendaftar pada program Duta Petani Muda yang diselenggarakan
Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan bekerja sama dengan Oxfam sejak 2014.

Proses seleksi dilakukan sejak 11 Agustus 2016 hingga 11 Oktober 2016. Sebanyak 514 pendaftar tersebut berasal dari berbagai daerah dengan berbagai jenis komoditas. Sebanyak 22% atau 113 pendaftar adalah agriprenuer perempuan muda.

Digdaya Agro Nusantara milik Rizal Fahreza bergerak di bidang pertanian hortikultura yakni jeruk Garut dan agrowisata di Cikajang, Garut. Di lahan seluas 2,2 ha, Rizal menanam jeruk Garut, yang 1,2 diantaranya juga digunakan untuk agrowisata.

Dari penjualan hasil pertanian jeruk Garut yang dimulai sejak 2012, Rizal bisa mengantongi 20 juta dalam dua pekan. Angka tersebut dihitung dari penjualan 2-4 kuintal per dua pekan, dengan harga sekitar Rp17.000 – Rp25.000. Belum lagi, pendapatan yang diperoleh dari Bisnis agrowisata di tempat yang sama di lahan seluas 1,2 juta ha, yang dimulai awal tahun ini.

Rizal bercerita bisnis di bidang hortikultura yang dijalaninya tidak serta merta berhasil. Dia harus melewati masa tiga tahun untuk memperoleh sistem bisnis yang baik. Jeda tiga tahun tersebut dimanfaatkan untuk menimba ilmu ke berbagai pengusaha, perusahaan, hingga mengambil kursus singkat di Ohio, Amerika Serikat selama 13 bulan. Selanjutnya, Rizal memilih pulang kampung untuk membangun bisnis buah jeruk yang sudah dirintisnya.

“Dari sana saya belajar poduksi, pascapanen, logistik, hingga model bisnis yang tepat. Begitu pula, produksi hanya menyumbang 30% faktor pendukung keberhasilan pertanian. Sementara sisanya, 70% ditunjang oleh kesiapan logistik dan pascapanen, serta marketing,” katanya di tempat yang sama.

Dalam distribusinya, Rizal menerapkan sistem agen dengan memberdayakan para ibu rumah tangga. Sebab, pasar buah jeruk Garut produksi Digdaya Agro Nusantara adalah para ibu dengan kemampuan ekonomi menengah ke atas. Area pemasaran buah jeruk Garut meliputi Bogor, Jakarta, dan dan Bandung. Dari sistem agen saja, Rizal dapat menjual rata-rata 2-4 kuintal per dua pekan dengan harga mulai dari Rp17.000 – Rp25.000.

Selain mengandalkan dari penjualan buah langsung, Rizal memperluas area pemasarannya dengan menerapkan agrowisata di lahan kebunnya seluas 1,2 ha.

“Faktor pendukung kesuksesan pertanian yakni 70% dari sem logistik dan pascapanen. Baru sisanya produksi,” imbuhnya.

Sementara, Rici Solihin pemilik Paprici menerapkan sistem distribusi langsung kepada konsumen. Menurutnya, dengan sistem kebun sendiri dan distribusi langsung ke konsumen, maka margin keuntungan yang dapat diperoleh sekitar 30%-50%. Berbeda jika melalui distributor sekitar 10%-15%.

Di kebun seluas 600 meter persegi di Pasirlangu, Bandung, Rici dapat mendirikan satu greenhouse untuk 200 pohon dengan produksi 5,2 ton per tahunnya.

“70% paprica dari sana, sementara kota di luar Pulau Jawa masih banyak permintaan. Saya melihat potensi ini. Apalagi melihat petani kesulitan memasarkan produknya,” imbuhnya.

Sementara, I Gede Artha pemilik Gede Jamur menyampaikan persoalan produk pertanian agar memiliki daya saing yakni kualitas, kuantitas, dan distribusi. Agar mampu menyediakan jamur dengan kuantitas besar di daerah pariwisata, maka Gede membentuk kelompok tani di tiap desa, dari sebelumnya minim kelompok tani. “Dengan pasokan yang besar, maka dapat mensuplai pasar yang lebih besar,” imbuhnya.

Sumber: Bisnis.com, 25 April 2017

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *