Kresek Berbayar, Siapa yang Diuntungkan?

Kresek berbayar, itulah yang dalam beberapa minggu terakhir banyak dibahas orang terutama di kalangan ibu-ibu. Mereka dikagetkan dengan kebijakan baru yang diterapkan pemerintah dan pengusaha ritel mengenai pemakaian kantong kresek dengan biaya rata-rata Rp.200/buah saat berbelanja di pasar modern.

Banyak yang berpendapat bahwa uang yang didapatkan dari kresek berbayar tersebut akan masuk ke tabungan para pengusaha pemilik retail. Mungkin ada sedikit kekeliruan di sini. Untuk meluruskan hal tersebut ijinkan saya untuk mengulasnya sedikit.

Kantong kresek yang digunakan di Indonesia rata-rata dibuat dari bahan plastik dan material tersebut baru dapat terurai sempurna dalam waktu 200 tahun. Memang ada kantong plastik yang terbuat dari bahan organik yang bisa terurai dalam waktu 3 tahun tapi ya itu bukan waktu yang sedikit juga kan. Jumlah rata-rata setiap hari orang berbelanja membawa 2 kantong kresek sehingga dalam satu tahun setiap orang dapat menghasilkan 700 sampah plastik. Jumlah populasi orang dewasa yang berumur 15 tahun ke atas di Indonesia mencapai lebih dari 200 juta orang. Artinya, jika masing-masing orang dewasa rata-rata menggunakan 2 plastik per hari maka dalam satu tahun akan menghasilkan lebih dari 100 milyar sampah plastik per tahun!

Jumlah itu akan terus menumpuk karena sampah plastik tidak dapat terurai cepat sehingga dapat menyebabkan pencemaran lingkungan dan bencana alam. Seperti di Bandung sendiri, 20% dari sampah yang dihasilkan rumah tangga adalah plastik sehingga menyebabkam banyak terjadi banjir saat musim hujan karena tersumbatnya saluran air oleh sampah plastik tersebut. Maka dari itu perlu tindakan tegas dari pemerintah dan pelaku ritel salah satunya dengan pemberlakuan kebijakan kantong kresek berbayar ini.

Sebenarnya kebijakan tersebut bukan hal yang baru karena di negara lain juga beberapa diantaranya telah menerapkan kebijakan serupa seperti halnya Amerika, Prancis, Jerman, sotlandia, beberapa negara di Eropa lainnya. Di wilayah Asia sendiri sudah diterapkan di Bangladesh di dan bahkan waktu saya berkunjung ke India tahun 2013 lalu mereka telah menerapkan program tersebut walaupun baru di beberapa tempat.

Mengenai uang hasil penjualan kantong kresek itu bukan masuk ke kantong pengusaha retail, tetapi masuknya ke pemerintah sbg dana tanggung jawab masyarakat terhadap lingkungan. Jadi uang yang telah terkumpul sebagian akan disetor ke pemerintah daerah atau pusat seperti dinas kebersihan dan kementerian LHK serta sebagian lagi untuk membiayai kegiatan lingkungan dan sosial lainnya.

Misal ada yang tanya kenapa baru retail modern seperti hypermarket, supermarket, minimarket? Karena sistem komputerisasi yang biasa digunakan mereka bisa menghitung berapa banyak plastik kresek yang dipakai sehingga bisa menghitung berapa uang yang terkumpul yang kemudian disetor ke dinas terkait. Sementara bagi pasar tradisional untuk pencatatan masih perlu sosialisasi yang intensif. Jangankan penjualan plastik, mungkin untuk pajak 1% bagi UKM saja mereka jarang atau tidak pernah menghitungnya apalagi membayarkannya.

Mengenai penetapan harganya juga sudah dilakukan riset oleh kawan-kawan dari gerakan diet kantong plastik indonesia sejak beberapa tahun yang lalu dan disesuaikan dengan kemampuan ekonomi masing-masing daerah lalu didapatlah nominal yang saat ini digunakan yakni Rp.200 per plastik. Sebenarnya nilai harga tersebut masih di bawah harga yang seharusnya tetapi hal tersebut patut diapresiasi karena walaupun program masih tahap percobaan, tetapi mudah-mudahan menjadi langkah awal yang manis untuk mewujudkan Indonesia Bebas Sampah Tahun 2020.

Nah mari kita menjadi masyarakat yang lebih peduli lingkungan melalui proyram diet kantong plastik dengan cara:
1. Mulai membawa kantong belanja sendiri yang ramah lingkungan.
2. Berani menolak penggunaan kantong plastik yang disediakan pihak toko.
3. Membiasakan diri untuk menenteng belanjaan yang dibeli dalam jumlah sedikit.
4. Dll

Kamu bisa menjadikan kebiasaan membawa kantong belanja sendirinitu sebagai gaya hidup baru loh! Banyak kok kantong belanja yang mudah dilipat dan daya tahannya lama, rata-rata bisa dipakai untuk 1000 kali pemakaian. Model dan harganya juga bervariasi tergantung dari kriteria yang kamu suka dan dapat disesuaikan dengan budget kamu juga tentunya, ya bisa berkisar antara Rp.9.000-100.000.

Coba jika kita hitung nilai ekonomisnya, jika rata-rata pemakaian 700 kantong plastik kita bisa mengeluarkan biaya:
700xRp.200= Rp.140.000 per tahun!
Artinya jika membawa kantong belanja sendiri kamu bisa menghemat banyak uang sekaligus menjaga lingkungan juga loh!

Saya memaklumi jika terdapat beberapa pihak yang masih keberatan karena dengan adanya kresek berbayar akan membebankan masyarakat. Akan tetapi mari kita ambil hikmah positifnya dengan berkorban melalui pembatasan kantong plastik maka kita juga ikut menjaga lingkungan dan melestarikan alam untuk masa depan anak cucu kita kelak. Mari kita menjadi insan yang cerdas bersikap positif terhadap suatu hal dengan tidak mudah terprovokasi hal-hal tidak berdasarkan fakta, biasakan untuk krocek informasi agar memberikan manfaat bagi yang lain.

Selamat beraktivitas!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *